Seni Merayu Tuhan dan Kegelisahan Spiritual Habib Jafar

 

Seni Merayu Tuhan dan Kegelisahan Spiritual Habib Jafar

GEMBELGAUL.COM, JAKARTA -  Mencari Tuhan adalah perjalanan yang sangat personal. Namun, ketika pencarian itu dituangkan ke dalam sebuah film, pertanyaan tentang Tuhan justru dapat menjadi ruang perjumpaan bagi banyak orang, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang agama berbeda.

 

Semangat itulah yang terasa dalam film terbaru Seni Merayu Tuhan, persembahan Wahana Kreator Nusantara yang diadaptasi dari buku best seller karya Habib Jafar.

 

Film ini tidak semata-mata mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang tengah “tersesat” dalam mencari makna hidup, tetapi juga mengajak penonton berbicara tentang keberagaman, toleransi, dan bagaimana manusia memahami keyakinannya masing-masing.

 

Menjelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 13 Agustus 2026, Seni Merayu Tuhan menggelar pemutaran bersama yang dihadiri sejumlah tokoh lintas agama di XXI Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).

 

Suasana pemutaran menjadi menarik karena film yang berbicara tentang pencarian spiritual itu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan agama. Hadir antara lain Habib Jafar, Bhante Dhira, Pendeta Tommy Simanjuntak, Romo Aan, Bli Mitha, dan Kris Tan. Jajaran pembuat film juga turut hadir, termasuk produser dan produser eksekutif serta sejumlah pemeran.

 

Bagi Habib Jafar, kehadiran mereka bukan sekadar bentuk dukungan terhadap sebuah karya film. Para tokoh tersebut merupakan orang-orang yang selama ini menjadi inspirasinya dalam merawat toleransi beragama di Indonesia.

 

“Mereka adalah inspirasi saya. Kawan-kawan yang merawat toleransi beragama di Indonesia selama beberapa tahun ke belakang,” ujar Habib Jafar.

 

Salah satu kekuatan Seni Merayu Tuhan terletak pada keberaniannya mengangkat pertanyaan yang kerap dianggap sensitif: bagaimana sebenarnya manusia mencari dan mengenal Tuhan?

 

Pendeta Tommy Simanjuntak menilai film tersebut mampu mengungkap sesuatu yang selama ini sering menjadi “elephant in the room” dalam pembicaraan mengenai spiritualitas. Menurutnya, pencarian terhadap Tuhan bukan sesuatu yang selalu bisa dijelaskan dengan rumus atau kepastian tunggal. Ada proses, pengalaman, dan perjalanan batin yang harus dilalui seseorang.

 

“Bahwa mengejar Tuhan itu bukan ilmu pasti, tapi ilmu seni,” ungkap Pendeta Tommy.

 

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan utama film, yakni perjalanan spiritual bukan kompetisi untuk menemukan siapa yang paling benar, melainkan proses personal untuk memahami kehidupan dan mengenal Tuhan.

 

Di titik inilah film mencoba menawarkan perspektif yang lebih luas. Pertanyaan tentang Tuhan tidak harus selalu berakhir dengan satu jawaban yang seragam.

 

Bhante Dhira melihat film sebagai karya seni yang dapat menyentuh nurani sekaligus membuka ruang bagi berbagai kemungkinan jawaban.

 

“Dalam film Seni Merayu Tuhan, menjawab banyak pertanyaan. Mungkin orang mempunyai satu jawaban tapi oleh film ini disiapkan 10 jawaban,” ujarnya.

 

Persoalan keberagaman juga hadir melalui hubungan Hikmah dan Sophia, karakter yang diperankan Ari Irham dan Lutesha. Keduanya merupakan pasangan beda agama yang menghadapi dilema dalam hubungan mereka. Namun, film tidak semata-mata menjadikan perbedaan keyakinan sebagai konflik romantis.

 

Lebih jauh, hubungan tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana dua orang dapat belajar memahami proses pendewasaan diri masing-masing sekaligus menghormati nilai yang diyakini pasangannya.

 

Dengan demikian, perbedaan agama ditempatkan sebagai bagian dari realitas kehidupan para karakter, bukan sekadar perangkat dramatis.

 

Pendekatan ini juga merefleksikan proses di balik layar. Habib Jafar mengatakan bahwa film tersebut lahir dari kerja bersama orang-orang dengan latar belakang keyakinan yang beragam.

 

“Film ini dibuat dan didukung penuh oleh orang-orang yang memang toleran. Kebetulan dari jajaran produser eksekutif kami, 90%-nya nonmuslim,” kata Habib Jafar.

 

Ia menyebut film tersebut turut terinspirasi dari pengalaman dan relasinya dengan kawan-kawan yang berbeda agama.

 

Dengan kata lain, keberagaman dalam Seni Merayu Tuhan bukan hanya hadir sebagai tema cerita, tetapi juga menjadi bagian dari proses kreatif pembuatannya.

 

Film kerap dipandang sebagai hiburan. Namun, Seni Merayu Tuhan mencoba mengambil peran yang lebih jauh: menjadi medium untuk mengajak penonton berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam kehidupan.

 

Apa arti menjadi manusia? Mengapa seseorang mencari Tuhan? Bagaimana keyakinan terbentuk? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana seseorang dapat menghormati keyakinan orang lain tanpa harus kehilangan keyakinannya sendiri?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan dalam masyarakat Indonesia yang hidup dengan keberagaman agama, budaya, dan cara pandang.

 

Kehadiran tokoh-tokoh lintas agama dalam pemutaran film ini seolah mempertegas pesan tersebut. Ketika sebuah karya seni mampu mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda dalam satu ruang, film tidak lagi hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang dialog.

 

Di tengah berbagai perbedaan, pencarian spiritual ternyata memiliki satu titik temu: manusia sama-sama memiliki pertanyaan tentang kehidupan dan makna keberadaannya.

 

Seni Merayu Tuhan dibintangi Ari Irham, Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, dan Alfie Alfiandy. Film ini diproduseri Salman Aristo dan Sigit Pratama, dengan Gina S. Noer dan Orchida Ramadhania sebagai produser eksekutif.

 

Wahana Kreator memproduksi film ini bersama PK Films, Emtek Media, Starvision, Magma Entertainment, Virtuelines Entertainment, dan Suraya Filem.

 

Lebih dari sekadar kisah seorang pemuda yang mencari arah hidup, Seni Merayu Tuhan mengajak penonton melihat pencarian spiritual sebagai perjalanan yang tidak selalu lurus, sederhana, atau memiliki satu jawaban.

 

Sebab, dalam perjalanan mengenal Tuhan, mungkin yang ditemukan bukan hanya jawaban tentang siapa Tuhan, melainkan juga pemahaman tentang diri sendiri dan tentang bagaimana hidup berdampingan dengan manusia lain.

 

Film Seni Merayu Tuhan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama