Bioskop Rakyat Bandung, Destinasi Anyar Yang Pengin Nonton Film Indie Indonesia

Gembelgaul.com - Bioskop Rakyat terletak di The Hallway Space, Bandung, menjadi destinasi pilihan bagi mereka yang menginginkan pengalaman menonton yang berbeda dan menyegarkan. Selama bulan Mei 2024 ini, Bioskop Rakyat menghadirkan rangkaian program menarik sepertiSpotlight to Campus, yang merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai kampus di Bandung,seperti Cinematography Club (CC) Fikom Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Seni BudayaIndonesia (ISBI) Bandung, dan Universitas Widyatama. Kolaborasi terbaru dengan Film danTelevisi Universitas Pendidikan Indonesia (FTV UPI) Bandung menampilkan film-film menarikseperti Sangkuriang, A Folk Tale from the Forest, Cingcowong: From Sacred to Profane, Roro Ajo,dan How To Be Forgiven by God, serta sebuah sesi diskusi yang menghadirkan para pembuatfilm dari FTV UPI Bandung pada tanggal 17 Mei mendatang. baca juga : mau lihat bola timnas di GBK, ini spot parkirnya Di bulan ini Bioskop Rakyat siap menyambut penonton dengan program-progr

Faisal Oddang dan Raudal Tanjung Banua Raih Cerpenis Terbaik Kompas 2018



Gembelgaul.com - Tak dipungkiri bahwa halaman cerpen Kompas yang di cetak tiap minggu jadi barometer penulis prosa untuk menggelontorkan karyanya. Dan juga tiap tahun cerpen-cerpen dibukukan dan dipilih terbaik untuk jadikan judul kumpulan cerpen. Tradisi itu tetap bergulir, pada tahun ini dua cerpenis nasional Faisal Oddang dan Raudal Tanjung Banua menyabet penghargaan Cerpenis Terbaik dalam Cerpen Pilihan Kompas 2018 dari 23 karya pilihan.

"Pada awalnya saya mengira sedang menyuarakan suara orang-orang terbungkam, yang terpinggir dan tak dapat banyak kesempatan bersuara, ternyata tidak--itu terlalu besar dan kemampuan saya melakukannya saya pikir belum memadai. Rupanya, saya hanya sedang mengolah ulang cerita-cerita yang pernah saya dengar dan alami, dalam konteks cerpen 'Kapotjes dan Batu yang Terapung', saya mengingat cerita orang di kampung bahwa dulu perempuan membaluri badan mereka dengan arang agar tampak tak menarik, sehingga tak dilecehkan, diculik atau diperkosa saat masa perang. Karena ini, selain kepada teman-teman yang telah memberi selamat, pertama-tama saya berterima kasih kepada semua cerita yang pernah saya baca dan saya dengar, lebih-lebih kepada semua yang menceritakannya pada saya," ujar Faisal dalam acara "Malam Jamuan Cerpen Kompas 2018" di Bentara Budaya Jakarta, Jumat(26/6/2019).


Faisal meraih penghargaan itu atas karyanya "Kapoties dan Batu yang terapung". Sedangkan Raudal Tanjung atas karya "Aroma Doa Bilal Jawad".

Sebanyak 53 cerpen telah dimuat di Kompas edisi Minggu sepanjang 2018. Para cerpenis pun berasal dari sejumlah kota di Indonesia dan menyumbangkan cerpen dengan tema yang bervariasi.


"Mulai dari keluarga, kekerasan seksual sampai sosial politik. Sebenarnya, ini jamak saja jika dibandingkan dengan tema-tema cerpen Kompas selama ini," ujar salah satu anggota Tim Juri Cerpen Pilihan Kompas 2018 M Hilmi Faiq.

Bukan hanya memberi penghargaan untuk cerpen terbaik, Cerpen Pilihan Kompas 2018  juga menghadirkan sesuatu yang berbeda, salah satunya adalah dengan menggandeng Adrian Yunan untuk membuat lagu dari salah satu cerpen terbaik dan diberi judul "Aroma Doa".(bws/net)

Komentar