Harta Tahta Raisa, Perjalanan Syaduh Diva Indonesia Meraih Mimpinya

  Gembelgaul.com - Film “Harta Tahta Raisa” akan membawa penonton terhanyut dengan kisah-kisah yang belum pernah terungkap sebelumnya dari balik panggung. Mulai dari kisah perjalanan Raisa meniti karier di industri musik Indonesia, persahabatannya dengan sang manajer yang juga mitranya dalam membangun Juni Records, Adryanto Pratono (Boim), hingga kisah eksklusif di balik kemegahan monumental “Raisa Live in Concert GBK” pada tahun 2023.   “Dokumenter adalah suatu karya yang tidak scripted. Drama saat produksi dan drama asli, tentu ada di film ini. Untuk menggarap film ini, Imajinari juga mencoba mengumpulkan footage sebanyak mungkin termasuk membereskan kepemilikan rights-nya. Secara linimasa, dokumenter ini sebenarnya film kedua Imajinari. Sudah digarap sejak 2022 dan akhirnya sekarang bisa disaksikan penonton Indonesia mulai 6 Juni 2024,” kata produser “Harta Tahta Raisa” Dipa Andika. baca juga : mau lihat timnas di GBK, ini peta parkirnya Melalui dokumenter ini, Raisa juga

Cantiknya Arumi Bachsin Jadi Panelis AIS Forum 2019 Manado


Gembelgaul.com - AIS (Archipelagic and Island State) Forum 2019 merupakan salah satu forum yang mendukung berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di negara-negara kepulauan. Forum ini mendisukusikan segala sesuatu yang menjadi masalah para pemangku kebijakan, dan juga memperluas kerjasama di segala sektor salah satunya UMKM di negara-negara kepulauan. AIS Forum 2019 diselenggarakan di Kawasan Pohon Kasih, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (31/10/2019).

Bagi Jatim, hal yang membanggakan, Jatim adalah mengirimkan wakilnya yaitu Ketua Dekranasda Prov. Jatim, Arumi Elestianto Dardak sebagai salah satu panelisnya. AIS forum 2019 dihadiri delegasi dari 41 negara kepulauan di seluruh penjuru dunia.

Pada kesempatan tersebut, Arumi sapaan akrabnya menyoroti peran Dekranasda Prov. Jatim sebagai Support System Millenial Job Center (MJC). MJC adalah program prioritas Jatim yang tertuang pada Nawa Bhakti Satya khususnya Bhakti 3 (Jatim Kerja). MJC ditujukan kepada dunia kampus, dan generasi millenial, guna menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. MJC akan menjadi tempat mencetak tenaga freelance profesional, dan memfasilitasi start up yang ingin lebih maju, sehingga siap bersaing di era 4.0.

"Dekranasda di dalamnya akan memberikan support seperti menyediakan mentor-mentor bagi MJC yang sudah berpengalaman di bidangnya. Misalnya, perajin binaan Dekranasda Jatim yang dirasa sudah menguasai dan ahli di bidangnya akan disodorkan untuk memberikan pelatihan kepada generasi yang ingin mengembangkan kompetensinya," ungkapnya.

Dengan demikian, lanjutnya, akan tercipta perajin-perajin baru yang berkompeten karena telah berguru pada mentor yang tepat dan ahli di bidangnya. Tentunya juga dibekali dengan pakem yang berlaku selama ini. Dekranasda Jatim secara tidak langsung juga bertanggung jawab dalam regenerasi perajin. Sehingga dengan adanya MJC seirama dengan program Dekranasda Prov. Jatim.

"Peserta MJC akan dilatih oleh mentor yang profesional, dan kemudian akan didampingi sampai mendapatkan order dari klien. Dekranasda Prov. Jatim bersama MJC tidak akan langsung melepas para peserta tapi terus mengawasi dan memberikan panduan," ujarnya.

Keberhasilan MJC tidak lepas dari peran mentor. Mencari mentor yang tepat sangat sulit. Arumi mencontohkan, tidak semua media creator itu sudah ada sekolahnya. Dengan demikian, dicari mentor yang harus memiliki pengalaman. Selain itu, juga harus dilakukan pemilihan mentor yang selektif sesuai kualifikasi.

"Nantinya diharapkan para talent akan memiliki project seperti yang selama ini diperoleh mentor," imbuhnya.

Dirinya menambahkan, dengan semakin banyaknya talent yang dilahirkan MJC, semakin hari akan bertambah kemampuannya, dan tentunya diimbangi dengan project yang dikerjakan. Project seperti itu, baik kecil maupun besar harus dimasukkan ke dalam portfolio, sehingga klien yang akan menggunakan jasa bisa melihat dari portfolio tersebut yang ada di MJC. Klien akan melihat kualitas talent, model jasanya, dan harga yang fair bagi kedua belah pihak.

"Semakin banyak portfolio maka tarif jasanya akan semakin mahal, karena ukurannya adalah pengalaman dalam mengerjakan projek," tambahnya.(bws/ggc)

Komentar