Siska Kubur, Sebuah Anomali Agama Dipertanyakan

  Gembelgaul.com - “Siksa Kubur” menghadirkan cerita yang menyentuh hati dan mengingatkan kita tentang pentingnya komunikasi, pengertian, dan kehangatan keluarga. Setelah kedua orangtuanya jadi korban bom bunuh diri, Sita jadi tidak percaya agama. Sejak saat itu, tujuan hidup Sita hanya satu: mencari orang yang paling berdosa dan ketika orang itu meninggal, Sita ingin ikut masuk ke dalam kuburannya untuk membuktikan bahwa Siksa Kubur tidak ada dan agama tidak nyata. baca juga : melihat gleen fredly hidup kembali Namun, tentunya ada konsekuensi yang mengerikan bagi mereka yang tak percaya. Film “Siksa Kubur” akan menghadirkan akting yang sempurna dari pemeran utama Faradina Mufti sebagai Sita dan Reza Rahadian sebagai Adil. Ditambah jajaran ansambel yang mayoritas merupakan pemenang dan peraih nominasi Piala Citra FFI, serta para pendatang baru yang menjanjikan. Mereka di antaranya adalah Christine Hakim, Fachri Albar, Happy Salma, Slamet Rahardjo, Arswendy Bening Swara, Nini

Prospek Ilmu Public Administrasi Sangatlah Cerah



Gembelgaul.com - Tuntutan zaman yang serba cepat dan dinamis membutuhkan penyesuaian bidang ilmu pengetahuan, termasuk proses pembelajarannya. Salah satunya adalah ilmu Public Administrasi yang harus menyesuaikan diri terhadap kebutuhan dan perkembangan dunia. 

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat menjadi Keynote Speaker Seminar Internasional The New Challanges for Public Administration in the "21 Century di Hotel Garden Palace Surabaya, Senin (26/8/2019).

Emil Dardak mengatakan, dahulu belajar Ilmu Public Administrasi cenderung berkutat pada kegiatan yang berada di sektor pemerintahan semata.  Namun, pada saat ini kegiatan-kegiatan politik maupun ekonomi juga harus mempelajari jurusan tersebut sebagai refrensi dalam mengambil setiap keputusan.

Emil menyatakan, bahwa seminar ini diharapkan dapat memberikan paradigma perspektif mengenai serunya  belajar Public Administrasi. Tidak hanya untuk masuk pemerintahan saja, akan tetapi siapa yang mau menjadi politisi, bahkan di dunia usaha akan sangat butuh ilmu tersebut agar lebih banyak diskusi perspektif yang lebih luas di ruang publik.

"Tidak berarti semua yang ambil ilmu ini harus bekerja di pemerintahan, melainkan mampu memiliki perspektif mengenai public policy. Terlebih hari ini kita melihat keputusan-keputusan yang diambil oleh negara tidak selamanya linier dengan keputusan ekonomi. Banyak dari kepentingan bisnis yang ada di negara tersebut diambil berdasarkan pertimbangan politik," tegasnya. 

Dalam konteks public policy,  lanjut Emil, belajar tentang Public Administrasi sangat berbeda, dimana kebijakan satu dengan yang lain punya kepentingan yang berbeda-beda.

Salah satu contohnya, dalam pengambilan keputusan menyikapi permintaan pengusaha dan pekerja juga tidaklah mudah. Terkadang,  antara buruh dengan pengusaha memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Jika pemerintah pro kepada pengusaha, maka yang terjadi buruh akan merasa ditinggal. Sebaliknya jika berpihak pada buruh dan tidak mempedulikan pengusaha akan berdampak pada iklim usaha maupun investasi. 

"Kesemuanya itu, harus mampu dilakukan secara seimbang agar tidak menimbulkan instabilitas ekonomi. Peran dalam Public Administration saat ini adalah mampu membedakan antara kepentingan yang berbeda-beda. Kemudian memberikan gagasan secara rasional, tutupnya

Selain Emil Dardak, narasumber lainnya yang juga memberikan wawasan, antara lain, Restog Krisa Kusuma (Sekretaris Utama Badan Eknomi Kreatif Indonesia), Dr. Aida Abdullah Deputy Dean of Accademic Affair UiTM Malaysia, Sulikah Asmorowati Ketua Departemen Ilmu Administrasi Fisip Unair dan Ladiatno Samsara (Peneliti, Pusat Inovasi Manajemen Pengembangan Kompetensi Aparatur LAN).(bws/ggc)

Komentar