Komedi Absurd Madura Tersaji di Foufo

Komedi Absurd Madura Tersaji di Foufo

GEMBELGAUL.COM, JAKARTA  - Bagaimana jika sebuah UFO tiba-tiba jatuh di Madura? Bukan untuk menginvasi bumi atau menghancurkan peradaban, melainkan justru tersesat di tengah keluarga sederhana yang sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup.


Premis yang terdengar absurd inilah yang menjadi pintu masuk Foufo, film terbaru garapan Bayu Skak yang akan tayang di bioskop mulai 9 Juli 2026.


Sejak adegan-adegan awal, Foufo mengajak penonton menikmati kekacauan yang terasa begitu akrab. Humor-humor khas Bayu Skak hadir nyaris tanpa jeda.


Dialog yang spontan, tingkah para karakter yang receh, hingga situasi-situasi tak terduga membuat tawa muncul berulang kali. Bukan sekadar lucu, komedi dalam Foufo lahir dari keseharian masyarakat yang terasa dekat dengan penonton.


Yang membuat film ini semakin menarik adalah keberaniannya memadukan dua dunia yang jarang dipertemukan: fiksi ilmiah dan budaya lokal.


Kehadiran alien di sebuah desa di Madura bukan hanya menjadi sumber kekonyolan, tetapi juga menjadi cara baru untuk bercerita tentang keluarga, harapan, dan perjuangan hidup. Di tangan Bayu Skak, kisah yang terdengar mustahil justru terasa membumi.


Meski sekitar 70 persen dialog menggunakan bahasa Madura, Foufo tidak membatasi diri hanya untuk penonton Madura. Ceritanya berbicara tentang sesuatu yang dipahami semua orang: cinta seorang anak kepada ibunya.


Di balik gelak tawa yang terus mengalir, tersimpan kisah Muslim, seorang anak yang ingin membahagiakan sang ibu dan mewujudkan impiannya untuk berangkat haji.


Di sinilah emosi film mulai bekerja. Penonton yang sejak awal dibuat tertawa perlahan diajak menyelami hubungan hangat antara ibu dan anak.


Tanpa terasa, komedi berganti menjadi momen-momen yang menyentuh. Perpindahan emosi itu terasa alami karena dibangun dari karakter-karakter yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Bagi Tretan Muslim, Foufo menjadi pengalaman yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Selama ini publik mengenalnya sebagai komedian, tetapi dalam film ini ia justru diminta menahan tawa dan memperlihatkan sisi dramatisnya. Sebagai pemeran utama untuk pertama kalinya, ia memikul cerita yang menuntut lebih dari sekadar melucu.


Lawan mainnya, Siti Kam, juga menghadirkan kejutan. Baru memulai debut di layar lebar pada usia 63 tahun, ia mampu menghadirkan sosok ibu yang hangat, sederhana, sekaligus kuat. Interaksi keduanya menjadi jantung emosional film yang membuat penonton mudah merasa dekat dengan cerita.


Keaslian budaya Madura dalam Foufo juga terasa melalui proses produksinya. Dari sekitar 2.500 peserta open casting, hampir 90 persen pemain yang terpilih berasal dari Madura atau memiliki darah Madura.


Pilihan tersebut membuat dialek, gestur, hingga dinamika antar karakter terasa alami, memperkuat identitas Foufo sebagai film berbudaya Madura pertama di layar lebar Indonesia.


Tak hanya di depan kamera, semangat kolaborasi lokal juga hadir di balik layar. Bayu Skak menggandeng studio animasi Hompimpa asal Surabaya untuk menciptakan karakter alien yang menjadi salah satu elemen penting dalam cerita.


Sekitar 120 animator terlibat dalam proses tersebut. Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), kehadiran para animator lokal menjadi bukti bahwa kreativitas manusia tetap menjadi ruh utama dalam membangun karakter yang hidup dan berjiwa.


Lewat Foufo, Bayu Skak tampaknya tidak hanya ingin menghadirkan tontonan yang menghibur. Ia juga mencoba memperluas kemungkinan cerita dalam perfilman Indonesia.


Jika selama ini budaya lokal lebih sering hadir dalam drama atau komedi konvensional, Foufo justru membawanya ke wilayah yang lebih berani: komedi sci-fi yang tetap membumi.


Hasilnya adalah sebuah film yang mampu membuat satu studio bioskop tertawa karena kekacauan yang diciptakan seekor alien, lalu beberapa saat kemudian terdiam ketika kisah seorang anak dan ibunya menyentuh hati. Perpaduan itulah yang membuat Foufo terasa berbeda.


Mulai 9 Juli 2026, saat UFO itu akhirnya mendarat di bioskop Indonesia, penonton akan diajak membuktikan sendiri bahwa di balik kisah alien yang jatuh di Madura, tersimpan cerita tentang keluarga yang begitu dekat dengan kehidupan kita.ggc

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama