Arumi Bachsin Duet Dengan Putri Indonesia 2020 Untuk Senyum Desa

Melihat Replika Taj Mahal Di Pasir Pengaraian



Gembelgaul.com - Jejakku sekarang menuju kota Pasir Pengaraian, tak banyak tahu tentang kota satu ini. Kota seribu suluk wilayah Riau propinsi Rokan Hulu. Start dari jalan Arengka sekitar jam 8 pagi menuju terminal bus Panam. Tapi sebelumnya dapat info bahwa transportasi ke Pasir Pengaraian harus dilalui angkutan L300, ini minibus sejuta umat khusus di pulau Andalas.

Pas dipinggir jalan celingak-cilinguk sampai membopong tas carrier merah buluk menunggu ojek samperin, masih jam 8 pagi kulihat jam tanganku. Memang di kota Pekanbaru masih opang (ojek pangkalan) tapi unik jika kita berdiri aja di pinggir jalan pasti ada kereta(motor) pasti disamperin nawarin ojek. Setengah jam nunggu tak kunjung muncul si ojek dadakan.

Pas kebetulan tempat berdiri berdekatan dengan pool Riau Taxi en pas juga ada 1 ekor taxi keluar, daripada lama-lama nunggu ku stop tuh taxi.

Memang taxi agak mahal sekitar 60 ribu itupun ditentukan argometer, kalo ojek biasa nego 40 ribu. Cuman 15 menit aja nyampai di simpang empat Panam jalan H.Soebrantas, disini terminal bayangan L300. Keluar dari Taxi, sudah diserbu calo yang mencoba mengais rejeki pagi hari. Berderet minibus Mitsubishi menunggu tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota diperbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu.


Sebenarnya banyak alternatif transport ke Pasir Pengaraian seperti ke kota lainnya macam travel “Tapi untuk ke pasir belum ada yang resmi bang untuk travel, kita bisa jemput juga” ujar Daniel, salah satu calo terminal bayangan. Pemberangkatan cuman 2 jadwal pagi dan sore, ini dikarenakan kuantitas menuju Pasir tidak sebanyak kota lainnya. Wajar karena Pasir dibilang kota perlintasan menuju Medan, sering dilalui Bus antar propinsi macam ALS.


Jam mendekati 9 pagi, L300 start dari simpang empat Panam dengan jarak 180 km atau 4 jam perjalanan. Melewati kota terbesar Bangkinang sebagai rute menuju Pasir Pangaraian, disini juga si sopir jemput bola angkut penumpang. Tarif normal L300 ini 30 ribu tapi pas kena calo 50 ribu, bagi-bagi rejeki deh pagi-pagi ceritanya. Kalo mau cepat naik pesawat, tapi mahal guys. Tak banyak tahu bahwa kota Pasir Pengaraian ada bandara namanya Tuanku Tambusai, pakai pesawat kecil baling-baling bambu 12 seat bisanya Susi Air menyediakan penerbangan pagi. Siap-siap sedia 280 ribu sekali terbang dari bandara Sultan Syarif Qasim, itupun dalam sepekan hanya 1 kali penerbangan. Kalo ente jurangan sawit bolehlah, naik pesawat pulang pergi.



Sepanjang perjalanan menuju pasir, kanan-kiri banyak budidaya kelapa sawit dan memang daerah Riau terkenal akan sawitnya. Tak aneh Indofood Group juga punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi melayu ini. Jalanan juga dibilang naik-turun sedikit terjal, setelah 2 jam diombang-ambing per keras L300 berhenti Rumah makan H.Nurman Ardai daerah Saran Kabun terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya. Sejenak istirahat melepas lelah atau menunggu penumpang lainnya makan, seperti kebanyakan angkutan dimana aja pasti ada tempat ngetem. Rumah makan Padang ini juga dijadikan tempat ngetem L300, ini hubungan simbiosis mutualis antara pemilik rumah makan dan sopir. Owner diuntungkan datangnya pembeli dengan kompensasi menyediakan makanan gratis buat sang sopir.


Tepat jam 12 siang kita go again , melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di pasir. Akhirnya jam 2 siang tiba memasuki kota, sesuai planku untuk diturunkan di Islamic Center Masjid. Karena browsing-broswing, Islamic center salah satu icon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan hotel Sapadia.


Tapi eits ane kagak nginap di Sapadia, karena backpacker budget jadi nyari alternatif. Sebelumnya sudah nanya ke mbah google tentang hotel di Pasir Pengarian, memang ada beberapa tapi pas cek lokasi ternyata tidak ada. Berjalan menyusuri jalan Tuanku Tambusai berharap kelihatan penginapan, harapan dikabulkan pas ada. Penginapan Andisna Motor yang dibundling bengkel jadi tempat beristirahat sementara, memang bukan hotel bintang 3 tapi cukuplah. Cuman 200 ribu dalam TV channel berbayar en kipas angin, tapi kamar mandi luar. Taruh tas sebentar en mandi, istirahat sejenak melepas penat. Ada yang rekomendasi nginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian. Lebih murah dan beragam, lebih ramai bahkan ada rumah sakit Awal Bros.

Menjelang maghrib waktunya jelajah kota Pasir Pengaraian, kotanya sih tidak begitu ramai karena perlintasan. Ciri khas kota-kota kecil di Riau, uniknya ada betor (becak motor) yang biasanya ada di Medan sekitarnya berseliweran. Tujuan utama ke Islamic Center, icon Pasir Pengaraian terlihat megah. Disini dibuat satu kompleks dengan menara 99, jadi dipusatkan pendidikan dan agama Islam. Setelah mencicipi karpet masjid untuk Ashar, kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center. Menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid terasa sejuk. Penampakan sekilas seperti Taj Mahal di India terdapat kolam ditengah diapit 4 menara. Uniknya lagi tempat masuk jamaah wanita dan pria diberi tanda berbeda. Seperti untuk jamaah pria, pintu diatas terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq-Khalifah pertama sedangkan Pintu jamaah wanita bertuliskan Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad.Jadi nggak salah masuk ruangan sholatnya, ane juga pas bingung banyak pintu mana yang buat jamaah pria. Biar nggak malu salah masuk, tiap pintu Islamic Center sesuai ruangannya masing-masing.


Setelah lelah mengelilingi masjid, dilanjutkan diluar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu Ratik Togak. Ini termasuk salah icon terkenal kota Pasir Pengaraian, sebuah tugu perlambangan ekstensi Islam di sini, lima tonggak melambang 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Memang Islam di Pasir sangat kuat, sebutan seribu suluk(tempat ngaji) disematkan. Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian(ayakan). Pasir disungai diayak sampai menghasilkan butir emas, itu asal nama Pasir Pengaraian diambil.


Kali ini ane cuman wisata kota aja untuk salam kenal dulu, sebenarnya Pasir pengaraian banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti obyek wisata air panas Hapanasan, Pawan, air terjun Aek Martua dan Danau Cipogas . Kalo tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak obyek-obyek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Next Trip Next Rute.(ggc/fey)

loading...

Komentar