Harta Tahta Raisa, Perjalanan Syaduh Diva Indonesia Meraih Mimpinya

  Gembelgaul.com - Film “Harta Tahta Raisa” akan membawa penonton terhanyut dengan kisah-kisah yang belum pernah terungkap sebelumnya dari balik panggung. Mulai dari kisah perjalanan Raisa meniti karier di industri musik Indonesia, persahabatannya dengan sang manajer yang juga mitranya dalam membangun Juni Records, Adryanto Pratono (Boim), hingga kisah eksklusif di balik kemegahan monumental “Raisa Live in Concert GBK” pada tahun 2023.   “Dokumenter adalah suatu karya yang tidak scripted. Drama saat produksi dan drama asli, tentu ada di film ini. Untuk menggarap film ini, Imajinari juga mencoba mengumpulkan footage sebanyak mungkin termasuk membereskan kepemilikan rights-nya. Secara linimasa, dokumenter ini sebenarnya film kedua Imajinari. Sudah digarap sejak 2022 dan akhirnya sekarang bisa disaksikan penonton Indonesia mulai 6 Juni 2024,” kata produser “Harta Tahta Raisa” Dipa Andika. baca juga : mau lihat timnas di GBK, ini peta parkirnya Melalui dokumenter ini, Raisa juga

Biokrasi Era Industri 4.0 Buat Kaum Milenial


Gembelgaul.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa hal leadership atau kepemimpinan saat ini bukan sesuatu yang hanya memerintah saja. Tetapi gaya kepemimpinan yang diutamakan adalah bagaimana dirinya bisa menggerakkan seluruh komponen di sekitarnya.

Apalagi era saat ini dinilai sudah jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Untuk itu, konsep baru dalam hal kepemimpinan dalam menghadapi kaum milenial harus dipahami. Utamannya di dalam maupun di luar lingkup birokrasi sebagai salah satu upaya persiapan menghadapi era industri 4.0.

"Leadership hari ini adalah leadership not by instruction," ucap Wagub Emil Elestianto Dardak saat menghadiri acara Leadership Transformation yang diselenggarakan PT. PLN (Persero) di Balai Andika, Hotel Mojopahit Surabaya, Kamis (29/8).

Pola kepemimpinan tersebut, menurut Wagub Emil sangat sesuai dengan era saat ini. Gaya tersebut bisa menjadi penghubung antara generasi milenal dengan generasi sebelumnya.

Jika pola tersebut dapat diimplementasikan dalam suatu lembaga dimana kebanyakan pekerjanya para generasi milenial, sementara pemimpinnya dari generasi lebih tua, maka dirasa akan terjadi sinkronasi yang baik antar kedua pihak.

"Kalau kedua generasi ini sama-sama melihat dari sisi yang berbeda maka mereka akan bisa saling melengkapi," jelas Wagub Emil yang juga berbagi pengalaman saat ia tengah menyelesaikan gelar doktornya itu.

Agar keinginan tersebut bisa tercapai, maka masing-masing personal perlu memiliki rasa empati untuk bisa mendukung pola kepemimpinan yang baru tersebut.

"Saya berharap bahwa leadership kita bisa bertransformasi sehingga empati itu bisa muncul," ucap Wagub Emil.

Turut hadir pada acara tersebut Wakil Ketua KPK periode 2011-2015 Bambang Widjojanto dan General Manager PLN UIT Jawa Bagian Timur dan Bali, Suroso serta puluhan perwakilan karyawan PLN dari seluruh wilayah Jatim dan Bali. (bws/ggc)

Komentar