Film Pasar Setan Berbalut Urban Horror Munculnya Nyai Salimah Minta Tumbal

  Gembelgaul.com - Pasar Setan adalah film horor ketiga dari IDN Pictures setelah kesuksesan "Inang" dan "Qorin", "Pasar Setan" juga menandai debut penyutradaraan Wisnu Surya Pratama dalam film panjang. Siap meneror di bioskop pada tanggal sakral tahun kabisat, 29 Februari 2024, di bioskop. Tamara dan tim vlogger-nya memutuskan untuk menjelajahi Pasar Setan, hutan terlarang yang telah menjadi legenda urban dan kisah horor lokal. Namun, ketika mereka mendalami lebih dalam ke dalam Pasar Setan, mereka menghadapi berbagai kengerian, di antaranya adalah sulitnya keluar dari tempat itu, serta ancaman dari Nyi Salimah. baca juga : Jefri Nichol sebagai new Ali Topan Pertanyaannya, siapakah yang akan selamat keluar dari Pasar Setan, dan siapakah yang akan terperangkap di sana selamanya? "Pasar Setan" menampilkan Audi Marissa dalam peran comebacknya setelah enam tahun absen dari layar lebar, juga merupakan debutnya dalam genre horor. Selain A

Merak Latar Kar Jagat, Batik Langka Hadir di House Of Sampoerna


Gembelgaul.com - House of Sampoerna bersama Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS) kolaborasi menggelar pameran bertajuk “Batik Kesayangan” yang diselenggarakan pada tanggal 17 Oktober – 9 November 2019 di Galeri Paviliun House of Sampoerna.

Berbeda dengan sebelumnya, pada gelaran ini tidak hanya membahas tentang teknik pembuatan dan ragam motifnya, namun lebih mengenai sejarah dibalik kain batik sehingga menjadi harta atau kesayangan bagi pemiliknya. Seperti batik motif Penyoh Tang Bintang koleksi Bupati Pamekasan H. Baddaruttamam. Kain warisan sang bunda dan digunakan sebagai selimut sewaktu masih kecil ini menggunakan pewarna alam dan diperkirakan berusia 100 tahun.

Cerita unik lainnya dari koleksi milik kolektor asal Pamekasan Lerem Pundilaras. Batik motif Merak Latar Kar Jagat ini merupakan kain peningset pemberian seorang pemuda yang melamarnya saat malam midodareni sekitar 28 tahun lalu.
Sejak pertama kali bekerjasama dengan KIBAS pada tahun 2010, Galeri Paviliun House of Sampoerna juga tidak berhenti mengedukasi masyarakat luas tentang berbagai ragam dan motif batik di Jawa Timur. Gelaran yang sekaligus menandai 10 tahun perjalanan KIBAS ini, diharapkan dapat menunjukkan nilai lebih selain nilai ekonomis dari kain batik itu sendiri. Latar belakang kepemilikan koleksi menjadi lebih berharga bagi para kolektor.

“Harapannya bahwa batik akan lebih popular dan disayangi oleh generasi jaman sekarang untuk perkembangan selanjutnya.  Banyak cerita cerita lucu, mengharukan dan lainnya akan muncul pada pameran kali ini,” tutur Lintu selaku ketua KIBAS.

Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS) didirikan pada 2007 oleh Lintu Tulistantoro dengan nama Komunitas Batik Surabaya yang disingkat menjadi KIBAS. Pada tahun 2009 berdasarkan permintaan, masukan dari berbagai pihak  dan persetujuan anggota meminta agar KIBAS berkiprah tidak hanya di Surabaya, namun meluas di Jawa Timur maka KIBAS berganti nama menjadi Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS). Komunitas ini terdiri dari pecinta, kolektor, pengrajin, desainer dan masyarakat umum. KIBAS memiliki visi dan misi untuk mensosialisasikan batik Jawa Timur kepada masyarakat.

Manager House of Sampoerna, Rani Anggraini, berharap masyarakat semakin menghargai koleksi batik yang dimiliki. Selain sebagai warisan budaya, batik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memiliki makna lebih bagi setiap pemiliknya.  “Semoga pameran ini juga menjadi penyemangat bagi para pembatik untuk terus berinovasi dan bagi pecinta batik dapat terus ikut serta melestarikan batik sebagai warisan kain nusantara,” lanjut Rani.(bws/ggc)




Komentar