Arumi Bachsin Duet Dengan Putri Indonesia 2020 Untuk Senyum Desa

Aku Yang Mengenal Sapardi Djoko Damono



Gembelgaul.com-Sapardi Djoko Damono (SDD) menghembuskan napas di usia 80 tahun(1940-2020). SDD meninggal dunia di RS Eka Hospital BSD Tangerang pada hari minggu 19 Juli 2020 pukul 09.17. Beliau dikenal sebagai dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan penyair maestro yang dimiliki Indonesia. Siapa yang tak kenal puisi Hujan Bulan Juni, Aku Ingin atau Yang Fana Adalah Waktu.

Saat mendengar SDD meninggal dunia, ada sekelumit memori dalam otak ini menarik kembali ke masa lalu. Tepatnya 2000 masa kuliah di fakultas Sastra Universitas Airlangga yang sekarang berubah menjadi fakultas Ilmu Budaya. Puisi-puisi SDD pertama kali kukenal, hidup kalangan mahasiswa Sastra dan ikut bagian dalam komunitas teater nama SDD tak asing.

Kala itu bukunya Hujan Bulan Juni jadi favorit untuk dibaca biarpun dulu tak pernah membeli tapi pinjam. Dari semua puisi SDD, puisi Aku Ingin terus diingat. Puisi-puisi SDD mungkin lebih syahdu untuk yang sedang jatuh cinta, khusus puisi Aku ingin.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

-- 1989

Puisi ini spesial karena sering pakai kata pembuka surat undangan pernikahan atau bahas kerennya quotes masa kini. Puisi ini juga  jadi inspirasi untuk merangkai kata-kata untuk menembakkan cinta ke incaran, termasuk diriku ini.

Sebenarnya puisi Aku ingin juga spesial bagiku, saat itu masih mahasiswa pada tiap tahunnya ada penerimaan mahasiswa baru dan aku didapuk sebagai trainer. Semacam Ospek atau acara penyambutan mahasiswa baru, saat itu ada dalam satu sesi memberikan hukuman atau semacam tantangan untuk mahasiswa baru untuk bisa meminta tanda tangan senior.

Waktu ada segerombolan atau mungkin 1 tim mendatangi diriku dalam sesi perburu tanda tangan itu. Setiap senior harus mengajukan pertanyaan atau tantangan yang harus dilakukan juniornya mulai game, soal sulit atau suruh lari-lari tak jelas hanya menembak gebetannya. Aku sebenarnya saat itu bingung memberikan tantangan apa tapi dalam benakku hanya ingat puisi SDD.

Nah, aku ajukan kepada mereka untuk menyebutkan salah satu puisi Sapardi Djoko Damono. Namun dari mereka tak satupun tahu siapa itu SDD serta puisi-puisinyaa, lama tak dijawab tiba-tiba dari belakang mereka muncul seorang cewek yang langsung menyebut puisi Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Aku kagum dari jawaban cewek ini yang sekilas seperti Dian Sastro AADC waktu mudanya, aku meminta dia membacakan puisi SSD itu dan kagumnya cewek ini hapal luar kepala. Dari situlah cewek ini jadi incaranku dan kami sempat menjalin kasih beberapa tahun tapi akhirnya putus juga.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, kami hidup dalam puisi-puisimu. Selamat jalan dan tenang disana karena yang fana adalah waktu, karyamu abadi.

Ferry Fansuri
penulis kelahiran Surabaya. Karya terbarunya novel "Jangan Katakan Itu Rindu" 2019(FAM Publishing). Salah satu juara favorit lomba cerpen "Urbanhype" Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 2019. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. 
loading...

Komentar