Siska Kubur, Sebuah Anomali Agama Dipertanyakan

  Gembelgaul.com - “Siksa Kubur” menghadirkan cerita yang menyentuh hati dan mengingatkan kita tentang pentingnya komunikasi, pengertian, dan kehangatan keluarga. Setelah kedua orangtuanya jadi korban bom bunuh diri, Sita jadi tidak percaya agama. Sejak saat itu, tujuan hidup Sita hanya satu: mencari orang yang paling berdosa dan ketika orang itu meninggal, Sita ingin ikut masuk ke dalam kuburannya untuk membuktikan bahwa Siksa Kubur tidak ada dan agama tidak nyata. baca juga : melihat gleen fredly hidup kembali Namun, tentunya ada konsekuensi yang mengerikan bagi mereka yang tak percaya. Film “Siksa Kubur” akan menghadirkan akting yang sempurna dari pemeran utama Faradina Mufti sebagai Sita dan Reza Rahadian sebagai Adil. Ditambah jajaran ansambel yang mayoritas merupakan pemenang dan peraih nominasi Piala Citra FFI, serta para pendatang baru yang menjanjikan. Mereka di antaranya adalah Christine Hakim, Fachri Albar, Happy Salma, Slamet Rahardjo, Arswendy Bening Swara, Nini

Ada Arumi Bachsin Yang Cantik Di Unisma Malang


Gembelgaul.com - Kesetaraan gender bukan sebagai hal persaingan. Namun, persoalan tersebut lebih mengarah pada sebuah warna dan memerlukan sentuhan untuk diselaraskan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Jawa Timur, Arumi Elestianto Dardak saat menjadi narasumber dalam Talkshow Korps PMII Putri (KOPRI) di Gedung Usman Mansyur Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (27/11/2019) sore.

“Aselerasi ini harus berjalan bersama, bukan untuk menjadi saingan atau egoisme semata, namun kontribusi perempuan dalam berbagai bidang memberikan sentuhan-sentuhan yang berbeda,” ungkapnya.

Menurut Arumi, perempuan di era saat ini sesungguhnya memiliki kesempatan untuk berperan lebih dalam pada sebuah kelembagaan. Dirinya mencontohkan bagaimana Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berhasil menjadi Gubernur wanita pertama di Jawa Timur. Kehadiran perempuan di dalam suatu kelembagaan atau pemerintahan sesungguhnya memberikan sentuhan-sentuhan khas dan warna yang berbeda.

“Kepemimpinan yang tidak menerima masukan dari perempuan biasanya menjadi lebih otoriter,” tambah Arumi yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur ini.

Sebagai wakil dari salah satu organisasi masyarakat yang sering bersinggungan langsung dengan perempuan, Arumi menjelaskan bahwa dirinya masih sering menjumpai berbagai permasalahan dalam upaya penyetaraan gender. Mulai dari pandangan atau struktur budaya di masyarakat, rendahnya akses yang diterima perempuan dari pada laki-laki, hingga masih rendahnya pemahaman masyarakat khususnya laki-laki terhadap kesehatan perempuan di keluarga yang perlu perhatian serius.

Dirinya menambahkan, bahwa masih banyak orang melihat persoalan sensitifitas perempuan adalah sebuah kekurangan. Kebanyakan orang masih belum memahami bahwa rasa sensitif yang dimiliki perempuan bisa menjadi sesuatu yang positif dalam pekerjaan. Arumi mencontohkan, bahwa karyawan perempuan di bidang kepegawaian akan lebih sensitif terhadap psikologis karyawannya. Hal tersebut tentunya akan memberikan kesan nyaman karena mendapat perhatian.

Oleh sebab itu, dirinya mengajak semua peserta talkshow yang mayoritas adalah mahasiswi itu untuk tetap semangat dalam melakukan aktualisasi diri terlepas dari siapapun dan apapun profesinya.

“Kebebasan berpendapat dan berpartisipasi dalam memimpin itu juga dimiliki oleh perempuan. Jangan salah ya. Kita punya kesempatan yang sama. Tentu, perlu proses dan adaptasi,” ungkapnya.

Memiliki kesempatan yang sama, Arumi meyakinkan bahwa laki-laki dan perempuan harus selaras dan seimbang dalam menempatkan pemikiran-pemikirannya.

Sementara itu, Talkshow yang bertajuk "KOPRI Being Inspiration For Women" ini bertujuan untuk menggenjot semangat kader Kopri PMII untuk mengambil peran dalam berbagai sektor. Sebagai narasumber hadir yakni Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur Arumi Emil Elestianto Dardak, Koordinator AMSI Jawa-Bali-Nusa Yatimul Ainun, dan Ketua Kopri PMII Jawa Timur Dini Adhiyati. (ggc)

Komentar