Harta Tahta Raisa, Perjalanan Syaduh Diva Indonesia Meraih Mimpinya

  Gembelgaul.com - Film “Harta Tahta Raisa” akan membawa penonton terhanyut dengan kisah-kisah yang belum pernah terungkap sebelumnya dari balik panggung. Mulai dari kisah perjalanan Raisa meniti karier di industri musik Indonesia, persahabatannya dengan sang manajer yang juga mitranya dalam membangun Juni Records, Adryanto Pratono (Boim), hingga kisah eksklusif di balik kemegahan monumental “Raisa Live in Concert GBK” pada tahun 2023.   “Dokumenter adalah suatu karya yang tidak scripted. Drama saat produksi dan drama asli, tentu ada di film ini. Untuk menggarap film ini, Imajinari juga mencoba mengumpulkan footage sebanyak mungkin termasuk membereskan kepemilikan rights-nya. Secara linimasa, dokumenter ini sebenarnya film kedua Imajinari. Sudah digarap sejak 2022 dan akhirnya sekarang bisa disaksikan penonton Indonesia mulai 6 Juni 2024,” kata produser “Harta Tahta Raisa” Dipa Andika. baca juga : mau lihat timnas di GBK, ini peta parkirnya Melalui dokumenter ini, Raisa juga

Cinta Itu Bulat Menurut Pasangan Seniman Yoes Wibowo dan Wina Bojonegoro


Gembelgaul.com - Sepasang seniman Yoes Wibowo dan Wina Bojonegoro menggelar pameran bertajuk “Art, Love and Journey” di Galeri Paviliun pada 7- 29 Februari 2020.  Bercerita tentang rangkuman kisah perjalanan hidup, pameran ini digelar sebagai contoh cinta sebagai inspirasi berkarya.

Yoes Wibowo pelukis cat air dan Wina Bojonegoro penulis fiksi memvisualisasikan keseharian mereka dan bagaimana karya-karya seni dilahirkan diwujudkan kedalam 34 karya seni baik lukis, puisi maupun instalasi. Pada pameran ini, keduanya membawa nuansa alami khas Omah Padma, studio sekaligus rumah dimana mereka tinggal ke dalam Galeri Paviliun agar pengunjung dapat turut merasakan suasana dimana karya-karya seni mereka diciptakan.

Lukisan Yoes Wibowo bertajuk “Sudut Rumah Kita”direspon secara apik oleh sang istri kedalam sebuah puisi tentang sebuah rumah yang selalu membuat rindu bahkan ketergantungan kepada seorang lelaki.  Pada karya lain berjudul “Lambang Cinta itu Bulat”, dilukiskan secara apik dengan kombinasi warna cerah. Lukisan ini kemudian dimaknai dengan sebaris puisi tentang cinta Yoes dan Wina yang diibaratkan cair seperti air, segar seperti udara dan bulat seperti tekad keduanya dalam membangun bahtera rumah tangga. Selain itu, ditampilkan pula beberapa karya hasil lukisan on the spot Yoes Wibowo saat berlibur ke berbagai tempat bersama sang istri.

Pesan yang diusung oleh seniman dalam pergelaran karya ini adalah hidup dengan cinta dan menebar cinta pada lingkungan dan sosial dengan cara berbagi. Mencintai semesta dengan segala isinya untuk hidup lebih indah. Yoes Wibowo juga menambahkan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam demi menjaga kelangsungan hidup dunia beserta isinya. “Semoga pameran ini memberi makna positif dan suasana alam khas Omah Padma bisa turut dirasakan oleh semua pengunjung Galeri Paviliun.”

Rani Anggraini selaku manager House of Sampoerna berharap pameran ini dapat memberikan suasana yang berbeda dan pengalaman baru dalam menikmati pameran di House of Sampoerna. “Semoga pameran ini juga turut mengisnpirasi para seniman untuk berkolaborasi dengan jenis karya berbeda dan menghasilkan karya-karya yang lebih menarik.”.(ggc)

Komentar